5/15/13

I. Penyakit Endemik dan Epidemiologinya di Indonesia



Beberapa jenis penyakit masih merupakan endemik di beberapa wilayah di Indonesia seperti demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, demam chikungunya, leptospirosis dan malaria.


1.      Malaria
Jumlah kasus dan angka kesakitan malaria per 1.000 penduduk berisiko menurut provinsi tahun 2011 ditunjukkan pada tabel di bawah ini.

            Pada tabel di bawah ini dapat dilihat Annual Parasite Insidence (API) Malaria menurut provinsi tahun 2007-2011


2.      Demam Tifoid
Di Indonesia, tifoid jarang dijumpai secara epidemis tapi bersifat endemis dan banyak dijumpai di kota-kota besar. Tidak ada perbedaan yang nyata insidens tifoid pada pria dan wanita. Insiden terringgi didapatkan pada remaja dan dewasa muda. Simanjuntak (1990) mengemukakan bahwa insiden tifoid di Indonesia masih sangat tinggi berkisar 350-810 per 100.000 penduduk. Demikian juga dari telaah kasus tifoid di rumah sakit besar di Indonesia, menunjukkan angka kesakitan cenderung meningkat setiap tahun dengan rata-rata 500/100.000 penduduk. Angka kematian diperkirakan sekitar 0,6-5% sebagai akibat dari keterlambatan mendapat pengobatan serta tingginya biaya pengobatan.

3.      Demam Berdarah Dengue (DBD)

Jumlah penderita, meninggal, Case Fatality Rate (%), Dan Incidence Rate per 100.000 penduduk Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) menurut provinsi tahun 2011 dapat dilihat di tabel bawah ini.


            Dan tabel jumlah kabupaten kota yang terjangkit demam berdarah dengue menurut provinsi tahun 2008-2011 dapat dilihat di tabel bawah ini.


4.      Demam Chikungunya

Pada tahun 2002 banyak daerah melaporkan terjadinya KLB Chikungunya seperti Palembang, Semarang, Indramayu, Manado, DKI Jakarta , Banten, Jawa Timur dan lain-lain. Pada tahun 2003 KLB Chikungunya terjadi di beberapa wilayah di pulau Jawa, NTB, Kalimantan Tengah. Tahun 2006 dan 2007 terjadi KLB di Provinsi Jawa Barat dan Sumatera Selatan. Dari tahun 2007 sampai tahun 2012 di Indonesia terjadi KLB Chikungunya pada beberapa provinsi dengan 149.526 kasus tanpa kematian.
5.      Leptospirosis

Kasus leptospirosis terutama dilaporkan pada daerah-daerah yang sering terjadi bencana banjir selama tahun 2003-2007, kasus Leptospirosis terbanyak adalah di DKI Jakarta bila dibandingkan dengan provinsi endemis Leptopsirosis yang lain. Namun pada tahun 2008 kasus Leptospirosis terbanyak dilaporkan terjadi di DI Yogyakarta, yaitu sebanyak 125 kasus. Provinsi lain yang melaporkan kasus Leptospirosis pada tahun 2008 adalah Jawa Tengah 72 kasus, DKI Jakarta 37 kasus dan Jawa Timur 29 kasus.
            Dibandingkan tahun 2007, terjadi penurunan jumlah kasus dari 666 kasus dengan 57 kematian menjadi 263 kasus dengan 16 kematian pada tahun 2008.


II.                Demam Tifoid
Epidemiologi
            Organisme penyebab Salmonella typhi. Infeksi memiliki prevalensi tertinggi di Asia Selatan dan Tenggara, Timur Tengah, Amerika Tengah dan Selatan, serta Afrika. Tingkat endemisitas yang rendah terdapat di Eropa Selatan dan Timur.
Patogenesis
            Organisme berpenetrasi ke mukosa usus dan berjalan ke kelenjar regional untuk bermultiplikasi, kemudian sebagian besar memasuki aliran darah yang menandai onset demam. Plak Peyer ileum terinfeksi selama bakterimia dan juga selanjutnya melalui empedu yang terinfeksi.
            Usus kemudian mengalami inflamasi dan selanjutnya selama minggu kedua atau ketiga penyakit dapat mengalami ulserasi sehingga menyebabkan perdarahan dan perforasi. Hati dan empedu juga terlibat.
            Setelah pemulihan, infeksi dapat menetap di saluran empedu dan kemih terutama pada penyakit yang sudah ada sebelumnya sehingga menyebabkan karier feses atau urin kronik. Setelah pemulihan, terbentuk imunitas intestinal lokal, selular dan humoral dan serangan kedua jarang terjadi.
Manifestasi klinis
            Demam tifoid yang tidak diobati seringkali merupakan penyakit berat yang berlangsung lama dan terjadi selama 4 minggu atau lebih. Minggu pertama : demam yang semakin menigkat, nyeri kepala, malaise, konstipasi, batuk nonproduktif, bradikardi relatif. Minggu kedua : demam terus-menerus, apatis, diare, distensi abdomen, ‘rose spot’ (dalam 30%), splenomegali (pada 75%). Minggu ketiga : demam terus-menerus, delirium, mengantuk, distensi abdomen masif, diare ‘pea soup’. Minggu keempat : perbaikan bertahap pada semua gejala.
            Setelah pemulihan, relaps dapat terjadi pada hingga 10% kasus (jarang terjadi setelah terapi fluorokuinolon). Kasus dapat berlangsung ringan atau tidak tampak.
Komplikasi
1.      Perdarahan dan perforasi usus (terutama pada minggu ketiga)
2.      Miokarditis
3.      Neuropsikiatrik : psikosis, ensefalomielitis
4.      Kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pneumonia, pankratitis
5.      Abses pada limpa, tulang atau ovarium

Pemeriksaan penunjnag dan Diagnosis
Hitung leukosit normal atau leukopenia. Leukositosis terjadi bila terdapat perdarahan atau komplikasi piogenik.Diagnosis definitif membutuhkan isolasi dari darah atau sumsum tulang. Kultur darah positif pada 80% kasus dalam minggu pertama, secara progresif berkurang setelah atau bila sebelumnnya terdapat penggunaan antibiotik.
Kultur sumsum tulang dapat tetap positif walaupun  setelah pemberian antibiotik. Kultur tinja dan urin sering positif sejak minggu kedua dan seterusnya, bersifat diagnostik hanya jika gambaran klinis mendukung.
Pengukuran antibodi ‘O’ dan ‘H’ (tes Widal) tidak dapat dipercaya dan sering sulit diinterprestasikan pada orang yang sebelumnya diimunisasi atau terinfeksi dengan kelompok salmonela yang berkerabat sehingga tidak digunakan di negara Barat. Sejumlah tes serodiagnostik yang lebih baru dan lebih sensitif ( misanya tes antibodi Vi) dan deteksi antigen Vi melalui PCR (Polymerase Chain Reaction) masih dalam evaluasi.
Pengobatan
            Terapi antibiotik : siprofloksasin per oral atau IV selama 10-14 hari pada orang dewasa atau sefalosporin generasi ketiga (misalnya setriakson) pada anak-anak. Kloramfenikol merupakan alternatif lebih murah pada area di mana organisme masih sensitif.Deksametason IV tambahan mengurangi mortalitas pada pasien toksik berat, 75% karier kronik dapat disembuhkan dengan siprofloksasin atau norfloksasin.
            Kolesistektomi dilakukan hanya bila gejala penyakit kandung empedu memperberat. Pembedahan penting dilakukan pada perforasi, namun perdarahan dapat ditangani secara konservatif.

Prognosis
Tifoid yang tidak diobati memiliki angka mortalitas yang mendekati 20%. Mortalitas hampir tidak ada pada pengobatan segera. Angka kematian yang tinggi tetap ada di banyak negara endemik akibat pengobatan yang tertunda atau tidak tepat.
Pencegahan
            Orang yang mengunjungi atau tinggal di daerah sangat endemik sebaiknya mendapatkan vaksin tifoid. Terdapat tiga jenis vaksin dan seluruhnya memberikan perlindungan sekitar 70% selama 3 tahun.
1.      Vaksin whole-cell mati : dua suntikan penting untuk paket primer. Efek samping lokal dan sistemik umum terjadi. Vaksin ini murah.
2.      Polisakarida kapsular Vi : suntikan tunggal, reaksi lokal dan sistemik minimal. Respon imun suboptimal pada anak-anak berusia <18 bulan. Vaksin polisakarida konjugat memberikan perlindungan sekitar 90% pada anak berusia >2 tahun dan mungkin lebih sesuai pada bayi.
3.      Vaksin oral hidup yang dilemahkan Ty 21a : 3 kapsul selama 5 hari. Sebenarnya bebas dari efek samping namun amahal. Tidak sesuai untuk anak-anak berusia <5 tahun.
4.      Di negara endemik tifoid, tindakan paling penting adalah penyediaan air yang aman diminum, pembuangan ekskret yang aman, serta edukasi masyarakat mengenai higiene.

Sumber :
1.      Menteri Kesehatan Republik Indonesia (MENKES RI), 2006, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 364/MENKES/SK/V/2006 Tentang Pengendalian Demam Tifoid, MENKES RI, Jakarta.
2.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia (DEPKES RI), 2009, Profil Kesehatan Indonesia 2008, DEPKES RI, Jakarta.
3.      Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES RI), 2012, Pedoman Pengendalian Demam Chikungunya Edisi Ke-2, KEMENKES RI, Jakarta.
4.      Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES RI), 2012, Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011, KEMENKES RI, Jakarta.
5.      Kandal, B.K. dkk., 2004, Penyakit Infeksi Edisi ke-6, Erlangga, Jakarta.

No comments:

Post a Comment