09/08/12

Pemeriksaan Penunjang Pada Kulit


Pemeriksaan penunjang khusus yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut : 
  • Pemeriksaan darah-untuk kelainan sistemik yang melatarbelakanginya dan dikembangkan untuk analisis genetik
  • Swab dan sampel-sampel yang lain-untuk infeksi
  • Lampu wood (wood’s light)- beberapa kelainan menjadi lebih mudah untuk dilihat
  • Kerokan kulit atau guntingan kuku- mikroskopi dan kultur mikologis
  • Biopsi kulit- histopatologi, mikroskopi elektron, imunopatologi, sidik DNA 
  •  Tes tempel (patch tes)-untuk membuktikan alergi akibat kontak dengan alergen


1.      Lampu wood
Merupakan sumber sinar ultraviolet yang difilter dengan nikel oksida, digunakan untuk memperjelas 3 gambaran penyakit kulit :

1.  Organisme tertentu penyebab bercak-bercak jamur (ringworm), pada kulit kepala memeberikan fluoresensi hijau (berguna untuk menentukan diagnosis awal dan membantu dalam memantau terapi
2.  Organisme yang berperan dalam terjadinya eritrasma memberikan fluoresensi merah terang
3.  Beberapa kelainan pigmen lebih jelas terlihat-terutama bercak-bercak pucat pada sklerosis tuberosa dan tanda cafẽ-au-lait pada neurofibromatosa

2.      Kerokan/guntingan
Hal ini bermanfaat khususnya bila dicurigai adanaya infeksi jamur, atau mencari tungau skabies.
            Sedikit kerokan dari permukaan kulit akan mengangkat skuama. Skuama ini ditempatkan di kaca mikroskop, ditetesi dengan kalium hidroksida (KOH) 10% dan ditutup dengan kaca penutup. Didiamkan beberapa menit untuk melarutkan membran sel epidermis, sediaan siap diperiksa. Pemeriksaan juga dapat dibantu dengan menambahkan tinta Parker Quink. Terhadap guntingan kuku bisa juga dilakukan hal yang sama, tetapi diperlakukan larutan KOH yang lebih pekat dan waktu yang lebih lama.

3.      Biopsi kulit
Teknik pemeriksaan yang sangat penting untuk menentukan diagnosis pada banyak kelainan kulit. Contohnya kanker, kelainan bulosa dan infeksi-infeksi seperti TBC dan Lepra.
Ada 2 cara untuk memperoleh sampel kulit sebagai pemeriksaan lab :
1.      Biopsi insisi/eksisi
2.      Punch biopsy


1.      Biopsi insisi/eksisi
Tindakan ini membutuhkan sampel pemeriksaan yang cukup besar ukurannya dan dapat juga dipakai untuk mengangkat lesi yang sangat besar.
a.       Pemberian anastesi lokal
Biasanya lidokain (lignokain) 1-2%, penambahan adrenalin (epinefrin) 1:10.000 membantu mengurangi perdarahan
b.   Untuk biopsi insisi (diagnostik). Buat 2 sayatan yang berbentuk elips. Pastikan bahwa sediaan tadi diambil melewati tepi lesi, beserta tepi dari kulit yang normal sekitar lesi. Untuk eksisi yang menyeluruh. Perluas elips yang mengelilingi keseluruhan lesi ;pastikan tepi eksisi memotong vertikal dan tidak miring ke arah tumornya
c.       Perbaiki kerusakan yang ditimbulkan
Kedua tepi, baik karena biopsi insisi maupun eksisi, dirapatkan satu sama lain dengan jahitan. Untuk memberikan hasil kosmetik yang terbaik pakailah benang yang sehalus mungkin contoh benang mono filamen sintesis yaitu prolen.
Catatan : bila diperkirakan terdapat tegangan yang kuat pada garis jahitan pertimbangkan utnuk meminta saran ahli bedah plastik/ bedah kulit

2.      Punch biopsy
Jauh lebih cepat, namun hanya memperoleh sampel yang kecil dan hanya cocok untuk biopsi diagnostik atau mengangkat lesi yang kecil
a.       Lakukan anastesi lokal
b.      Tusukkan pisau biopsi ke dalam lesi dan lakukan gerakkan melingkar
c.  Tarik ke atas jaringan di tengah irisan tadi dan pisahkan dengan menggunakan gunting atau skalpel
d.      Atasi perdarahan dengan perak nitrat atau dengan jahitan kecil

4. Tes tempel
                                    Bila dicurigai terjadi dermatitis kontak alergi, lakukan tes tempel.
                                  Pada pemeriksaan ini alergen yang kemungkinan menjadi penyebab dilarutkan dalam media yang sesuai. Bahan-bahan tes ditempatkan pada lempengan-lempengan tipis yang ditempelkan pada kulit (biasanya di daerah punggung) selama 48 jam. Reaksi positif (sesudah 48 jam atau kadang-kadang lebih lambat) memastikan adanya reaksi hipersensitivitas tipe lambat (tipe IV) terhadap bahan penyebab alergi tadi.
                                   Teknik pemeriksaan ini dapat diperluas, antara lain pemeriksaan foto alergi.
Sumber : 
Brown, RG dan Tony Burns. 2005. Dermatologi ed 8. Jakarta : EMS

2 komentar:

  1. waa,, abang punya blog,,
    sering-sering jag bang masukin laporan kesini biar bisa saya lihat,, ^^

    BalasHapus
  2. makasih udah ngunjungin blog abang...
    insyaallah...

    BalasHapus