10/9/12

Pneumonia



I. Definisi
Peradangan yang mengenai parenkim paru distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus repiratorius dan alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.
II. Patogenesis
Proses patogenesis pneumonia terkait dengan 3 faktor yaitu keadaan (imunitas) inang, mikroorganisme yang menyerang pasien dan lingkungan yang berinteraksi satu sama lain.
Cara terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya infeksi melalui droplet sering disebabkan staphylococcus pneumoniae, melalui slang infus oleh staphylococcus aureus sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh P. Aeruginosa dan Enterobacter.
III. Etiologi
            Etiologi pneumoniae berbeda-beda pada berbagai tipe pneumonia dan hal ini berdampak kepada obat yang akan diberikan. Mikroorganisme penyebaba yang tersering adalah bakteri, yang jenisnya berbeda antar negara, di luar RS (Rumah Sakit) dan di dalam RS, antar RS besar/tersier dengan RS yang lebih kecil. Karena itu perlu diketahui dengan baik pola kuman suatu tempat.
            Pada massa lalu terjadi perubahan pola mikrorganisme peyebab ISNBA (Infeksi Saluran Napas Bawah Akut) akibat adanya perubahan keadaaan pasien seperti gangguan kekebalan dan penyakit kronik, polusi lingkungan dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat hingga menimbulka perubahan karakteristik kuman. Terjadilah peningkatan patogenesis/jenis kuman terutama S. Aureus, B. Caterrhalis, H. Influemzae dan Enterobacteriae oleh adanya berbagai mekanisme. Juga dijumpai pada berbagai bakteri enterik gram (-)
IV. Diagnosis
Penegakkan diagnosis
Dibuat dengan maksud pengarahan kepada pemberian terapi yaitu dengan cara mencakup bentuk dan luas penyakit, tingkat berat penyakit dan perkiraan jenis kuman penyebab infeksi. Dugaan mikroorganisme penyebab infeksi akan mengarah kepada pemilihan terapi empiris antibiotik yang tepat.
Diagnosis pneumonia didasarkan kepada riwayat penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisik yang teliti dan pemeriksaan penunjang. Dalam menegakkan diagnosis pneumonia selain dapat dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dapat juga dilakukan pemerikasaan lain yaitu pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan bakterioogik dan pemeriksaan khusus.
V. Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia berdasarkan inang dan lingkungan :
1.      Pneumonia komunitas
2.      Pneumonia nososkimal
3.      Pneumonia rekurens
4.      Pneumonia aspirasi
5.      Pneumonia pada gangguan imun
VI. Penatalaksanaan
Pada prinsipnya terapi pemberian utama pnemonia adalah pemberian antibiotik (AB) tertentu terhadap kuman tertentu pada suatu tipe dari ISNBA baik pneumonia ataupun bentuk lain dan AB ini dimaksudkan sebagai terapi kausal terhadap kuman penyebab termaksud.
VII. Komplikasi
Dapat terjadi kompliaksi pneumonia ekstrapulmoner, misalnya pada pneumonia pneumokokkus dengan bakteremie dijumpai pada 10% kasus berupa meningitis, arthritis, endokarditis, perikarditis, peritonitis dan empiema.
            Terkadang dijumpai komplikasi ekstrapulmoner non infeksius antara lain gagal ginjal, gagal jantung, emboli paru atau infark paru dan infark miokard akut.

Sumber :
Sudoyo, Aru W. dkk (Editor). 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3 Ed 5. Jakarta : Interna Publishing



No comments:

Post a Comment