3/29/13

I. Anatomi Dan Fisiologi Organ Penghidu



1.1  Anatomi Hidung
Terdiri atas nasus externus (hidung luar) dan cavum nasi.

1.1.1 Nasus externus
            Mempunyai ujung yang bebas, yang dilekatkan ke dahi melalui radix nasi atau jembatan hidung, Lubang luar hidung adalah kedua nares atau lubang hidung. Setiap nasris dibatasi di lateral oleh ala nasi dan di medial oleh septum nasi.
            Rangka nasus externus dibentuk di atas oleh os nasale, processus frntalis ossis maxillares, dan pars nasalis ossis frontalis. Di bawah, rangka ini dibentuk oleh lempeng-lempeng tulang rawan, yaitu cartilago nasi superior dan inferior, dan cartilago septi nasi.


1.1.2 Cavum nasi
            Terletak dari nares di sampai choanae di belakang. Rongga ini dibagi oleh septum nasi atas belahan kiri dan kanan. Setiap belahan mempunyai dasar, atap, dinding lateral dan dinding medial.Dasar dibentuk oleh processus palatinus maxillae dan lamina horizontalis ossis palatini,  yaitu permukaan atas palatum durum.
            Bagian atap sempit dan dibentuk dari belakng ke depan oleh corpus ossis sphenoidalis, lamina cribrosa ossis ethmoidalis, os frontale, os nasale dan cartilagines nasi. Dinding lateral ditandai dengan tiga tonjolan disebut concha nasalis superior, media dan inferior. Area di bawah setiap concha disebut meatus.
            Recessus sphenoethmoidalis adalah daerah kecil yang terletak di atas terletak di atas concha nasalis superior dan di depan corpus ossis sphenoidalis. Di daerah ini terdapat muara sinus sphenoidalis.
            Meatus nasi superior terletak di bawah dan lateral concha nasalis superior. Di sini terdapat muara sinus ethmoidalis posteriores.
            Meatus nasi media terletak di bawah dan lateral concha media. Pada dinding lateralnya terdapat prominentia bulat, bulla ethmoidalis, yang disebabkan oleh penonjolan sinus ethmoidales medii yang terletak di bawahnya. Sebuah celah melengkung, disebut hiatus semilunaris, terletak tepat di bawah bulla. Ujung anterior hiatus masuk ke dalam saluran berbentuk corong disebut infundibulum.
            Meatus nasi media dilanjutkan ke depan oleh sebuah lekukan disebut atrium. Atrium ini dibatasi di atas oleh sebuah rigi, disebut agger nasi. Di bawah dan depan atrium, da sedikit di dalam naris, terdapat vestibulum.
            Meatus nasi inferior terletak di bawah dan lateral concha inferior dan padanya terdapat muara ductus nasolacrimalis. Dinding medial atau septum nasi adalah sekat osteocartilago yang ditutupi membrana mucosa.
            Membran mucosa melapisi cavum nasi, kcuali vestibulum, yang dilapisi oleh kulit yang telah mengalami modifikasi. Membran mucosa olfactorius melapisi permukaan atas concha nasalis superior dan recessus sphenoethmoidalis; juga melapisi daerah septum nasi yang berdekatan dan atap. Membran mucosa respiratorius melapisi bagian bawah cavum nasi.

1.1.3 Persarafan cavum nasi
            N. olfactorius berasal dari sel-sel olfactorius khusus yang terdapat pada membrana mucosa yang telah dibicarakan sebelumnya. Saraf ini naik ke atas melalui lamina cribosa dan mencapai bulbus olfactorius. Saraf-saraf sensai umum berasal dari divisi ophtalmica dan maxillaris n. Trigeminus.

1.1.4 Pendarahan cavum nasi
            Suplai arteri untuk cavum nasi terutama berasal dari cabang-cabang a. Maxillaris. Vena-vena membentuk plexus yang luas di dalam submucosa.

1.1.5 Aliran limfe cavum nasi
            Pembuluh limfe mengalirkan limfe dari vestibulum ke nodi submandibularis. Bagian lain dari cavum nasi mengalirkan limfenya ke nodi cervicales profundi superior.

1.2  Fisiologi
1.2.1        Membran mukosa olfaktorius
Mengandung sel enunjang dan sel progenitor utnuk reseptor sel olfaktorus. Jumlah sel resepror sebanyak 10-20 juta. Setiap sel olfaktoris neuron. Dan membran mukosa olfaktorius selalu ditutupi oleh mukus.

1.2.2.   Korteks olfaktorius          
            Ketika kita menghirup yang diaktifkan adalah korteks piriformis. Saat mencium bau dengan atau tanpa menghirup, itu mengaktifkan girus orbitofrontalis anterior lobus frontalis. Serabut lain pada korteks menuju ke amigdala sebagai respon emosi rangsang pnghidu.
1.2.3        Transduksi sinyal
Organ penghidu manusia dapat membedakan 10.000 macam bau karena terdapat bermacam-macam reseptor bau. Ada penghambatan lateral oleh glomerulus olfaktorius yamg diperantari oleh sel periglomerulus dan sel granula. Kedu sel ini bertugas untuk mempertajam dan memfokuskan sinyal olfaktorius.

1.2.4        Protein pengikat bau
Protein pengikat bau yang telah diidolasi ialah OBP 18-kDa. Ini merupakan protein khas untuk rongga hidung. Fungsinya sebagai pembawa molekul-molekul lipofilik kecil

1.2.5        Sniffting (Mengendus)
Terjadi akibat adanya kontraksi bagian bawah nares di septum untuk mengarahkan arus udara ke atas.

1.2.6        Peran serabut nyeri di hidung
Dapat dirangasang oleh bahan iritatif. Juga berperan dalam bersin, lakrimasi dan penghambatan pernapasan.

1.2.7        Adaptasi
Adanya pajanan bau tertentu yan terus menerus sehingga tejadi penurunan persepsi bau dan lama kelamaan akan berhenti.

1.2.8        Kelainan
Anosmia adalah hilangnya daya mengidung. Selain itu ada juga, hiposmia yang merupakan kelainan dengan bekurangnya kepekaan menghidung dan disosmia yaitu distorsi daya menghidu. Ketiga kelainan ini dapat terjadi karena  tidak adanya atau gangguan fungsi pada salah satu dari berbagai anggota famili reseptor bau.

Daftar Pustaka :

1.      Snell RS. 2006 Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed. 6. Jakarta : EGC.
2.     Ganong, Willian F. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed 22. Jakarta : EGC.



1 comment:

  1. This is the most interesting information and fit obat hidrokel into our topic. bahaya penyakit amandel I want to share it with my friends Obat Amandel Herbal Thankyou for QNC Jelly Gamat

    ReplyDelete