3/29/13

I. Penyakit Mata Dengan Penglihatan Menurun Perlahan Tanpa Mata Merah


                

1.1  Katarak
Setiap keadaan kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya. Kelainan sistemik yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes melitus, galaktosemi dan distrofi miotonik. Katarak juga merupakan salah satu penyakit degeneratif pada mata.


1.1.1        Klasifikasi
Berdasarkan usia katarak dibagi menjadi :
1.      Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
2.      Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
3.      Katarak sensil, katarak yang terjadi setelah usia 50 tahun
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubela, galaktosemia, koma sistemik, diabetes melitus dan hipoparatiroidism.
Pada katarak senil, jika bilik mata depan dalam maka termasuk dalam kategoti hipermatur. Sedangkan pada katarak imatur, keadaan lensa mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma sekunder.
Pada katarak rubela, rubela pada ibu hamil dapat mengakibatkan katarak pada lensa fetus.
Pada katarak komplikata, katarak diakibatkan oleh penyakit mata lain seperti radang dan proses degenerasi. Dan juga dapat disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin seperti diabetes melitus.
Pada katarak diabetes, dapat terjadi dalam 3 bentuk :
1.      Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan terlibat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali.
2.      Pasien diabetes juvenil dan tua tidak terkontrol dimana terjadi katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam. Bentuk dapat snow flake/piring subkapsular
3.      Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histologik dan biokimia sama dengan katarak pasien non diabetik.

Pada katarak sekunder, terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal.

1.2  Glaukoma
Ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata, atrofi papil saraf optik dan menciutnya lapang pandang.
Klasifikasi glaukoma menurut Vaughen :
1.      Glaukoma primer
a.       Glaukoma sudut terbuka (glaukoma simpleks)
b.      Glaukoma sudut sempit
2.      Glaukoma kongenital
a.       Primer atau infantil
b.      Menyertai kelainan kongenital lainnya
3.      Glaukoma sekunder, yang terjadi antara lain : perubahan lensa, kelainan uvea, trauma, bedah, rubeosis, steroid dan lainnya.
4.      Glaukoma absolut

Glaukoma primer
Etiologinya tidak pasti, didapatkan pada orang yang telah memiliki bakat bawaan glaukoma
a.       Glaukoma simpleks
Faktor resikonya seperti diavetes melitus, hipertensi, kulit berwarna dan miopia.
Tekanan bola mata sehari-hari meningkat atau > 20 mmHg, mata tidak merah atau tidak terdapat keluhan. Akibat tekanan tinggi akan terbentuk atrofi papil disertai dengan ekskavasio glaukomatosa.
Dapat diberikan pilokarpin tetes mata 1-4% dan bila perlu dapat ditambah dengan asetacolamid 3 kali sehari
Pemeriksaan glaukoma simpleks :
1.      Bila tekanan 21 mmHg, sebaiknya dikontrol rasio C/D, pemeriksaan lapang pandang sentral, temukan titik buta yang meluas dan skotoma sekitar titik fiksasi
2.      Bila tensi 24-30 mmHg, kontrol lebih ketat dan lakukan pemeriksaan di atas bila masih dalam batas-batas normal mungkin satu hipertensi okuli
Diagnosis glaukoma, jika tekanan intraokular > 21 mmHg dan terdapat kelainan lapang pandang serta papil

2.3         Retinopati
2.3.1        Retinopati anemia
Akibat aneksia berat yang terjadi pada anemia

2.3.2        Retinopati diabetes melitus
Berupa aneurisma, melebarnya vena, perdarahan dan eksudat lemak. Gambaran khasnya terdapat soft exudate/cotton wool patches yang merupakan iskemik retina. Pada pemeriksaan oftalmoskopi terlihat bercak bewarna kuning bersifat difus dan berwarna putih.

2.3.3        Retinopati hipotensi
Menurunnya tekanan darah dapat terjadi akibat kelainan retina berupa dilatasi arteriol dan vena retina, iskemia saraf optik, retina dan koroid akibat hipoperfusi.

2.3.4        Retinopati hipertensi
Memberikan kelainan pada retina berupa retinopati hipertensi dengan arteri yang besarnya tidak teratur, eksudat pada retina, edem retina dan perdarahan retina.

2.3.5        Retinopati leukemia
Neoplasma ganas sel darah putih yang sebabnya tidak diketahui dapat berjalan akut  (granulositik, limfositik, mielomonositik) dan kronik (granulositik)

2.3.6        Retinopati pigmentosa
Karakterisstiknya, terjadi degenerasi sel epitel retina terutama sel batang dan atrofi saraf optik, menyebar tanpa gejala peradangan. Retina mempunyai bercak dan pita halus berwarna hitam.


Daftar Pustaka :
 Ilyas, Sidharta. 2006. Ilmu Penyakit Mata Ed 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

No comments:

Post a Comment